Senin, 14 Maret 2011

Colorimetry Part III: Color Difference – Perbedaan Warna

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini merupakan lanjutan dari  
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DeltaE

Dengan diperkenalkan model warna CIELAB (CIEL*a*b*) dan turunannya CIELChab oleh CIE pada tahun 1976, maka perhitungan perbedaan warna yang diberi simbol ΔE*ab = Delta adalah huruf Yunani yang sering dipergunakan sebagai simbol jarak atau perbedaan dan E = singkatan dari kata dalam bahasa Jerman Empfindung yang berarti sensasi) menjadi lebih mudah untuk dimengerti, hal ini disebabkan karena model Warna CIELAB tersebut dianggap memiliki skala seragam pada ketiga dimensinya terhadap persepsi mata manusia. Selain ΔE*ab, sering juga perbedaan warna ini dipergunakan simbol2 seperti ΔE*, dE*, dE atau DeltaE.


Rumus menghitung perbedaan warna untuk dua warna dalam ruang warna CIELAB (L1,a1,b1) dan (L2, a2, b2) didefinisikan dengan sederhana yaitu:


Di dalam teori ΔE* lebih kecil dari 1,0 diperkirakan mata manusia tidak dapat membedakan perbedaan warna yang ada, namun masih terjadi ketidak-seragaman persepsi di CIELAB yang mengharuskan CIE terus menyempurnakan definisi dan rumus perbedaan warna dengan memperhatikan komponen chroma (C) dan jenis warna (h).

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Penyempurnaan perumusan ΔE* oleh CIE terakhir dipublikasikan pada tahun 2000 yaitu CIEDE2000 (CIE ΔE* tahun 2000) yang memperhatikan komponen-komponen chroma (C), jenis warna (h), kecerahan (L) sebagai dasar perhitungan. (Perhitungan CIEDE2000 adalah perumusan ΔE* yang terakhir oleh CIE yang paling mendekati persepsi mata manusia atas perbedaan warna, hal ini mengakibatkan perumusan perbedaan warna menjadi rumit, karena banyak perhitungan-perhitungan bersifat quasi metrik.
Akan tetapi pada standar-standar internasional untuk industri grafika seperti ISO 2846 dan ISO 12647 masih menggunakan rumus ΔE* yang pertama kali didefinisikan yaitu versi tahun 1976). Usulan mempergunakan perhitungan CIEDE2000 dalam dokumen ISO 12647 sedang dibahas dalam agenda ISO/TC-130.
(lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Color_difference#CIEDE2000)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengaruh nilai perbedaan warna tersebut dapat dilihat seperti tabel di bawah ini:
Perbedaan Warna ∆E
Pengaruh
< 0,2
tidak terlihat
0,2 - 1,0
sangat kecil
1,0 - 3,0
kecil
3,0 - 6,0
sedang
> 6,0
besar


Dan istilah “JND” atau “just noticeable difference” yang berarti “mulai terlihat adanya perbedaan” untuk warna dapat dipatok pada angka ΔE* ≈ 2,3.

Istilah populer untuk perbedaan warna:
Perbedaan komponen


ΔL*
(+) lebih cerah
(-) lebih gelap
Δa*
(+) lebih merah
(-) lebih hijau
Δb*
(+) lebih kuning
(-) lebih biru
ΔC*
(+) lebih kuat
(-) lebih kusam
Δh°
Perbedaan Jenis warna (dalam satuan sudut)
ΔH
Perbedaan Jenis warna (dalam satuan metrik)
ΔE*
Perbedaan Warna



ΔE* sering dipergunakan untuk mengetahui:
  • sejauh mana warna hasil cetak coba (proof) berbeda dengan hasil cetak
  • sejauh mana sebuah alat cetak menyimpang dari nilai tera
UGRA/FOGRA MediaWedge v3.0 ini adalah standar yang dipergunakan dalam mengontrol proofing


Didalam standar mutu cetak seri ISO 12647, perbedaan warna ΔE* dipakai untuk memberikan nilai toleransi, yang berarti pembatasan perbedaan warna yang masih diperbolehkan / ditolerir. Dengan demikian sebuah percetakan dapat mengontrol proses produksi mereka sesuai dengan standar yang diterapkannya
Apabila kita menggunakan batasan-batasan per komponen warna seperti ΔL*, Δa* dan Δb*, maka kita akan mendapatkan ruang pembatas berupa balok persegi. Maka pembatasan diberikan dalam nilai ΔE* yang memiliki ruang pembatas berupa bola.
Apabila nilai toleransi diberikan terhadap komponen ΔL*, ΔC* dan Δh°, maka ΔE*Ch akan membentuk ruang ellipsoid yang bersudut sesuai dengan sudut yang dibentuk oleh garis kedua warna yang akan dibedakan.


Toleransi CMC l:c (1984)
Batasan toleransi dalam ΔE* sering kali menjadi perdebatan, karena besaran yang diberikan masih sering tidak memuaskan beberapa pihak (terutama pelanggan), karena ternyata kepekaan mata manusia berbeda pada komponen-komponen warna, baik dari kecerahan, kejenuhan maupun jenis warna. Kepekaan mata manusia pada jenis warna jingga dan biru juga berbeda, karena pada jenis warna jingga mata manusia lebih peka dibandingkan pada warna biru.

CMC Tolerancing (perhatikan luas toleransi yang berbeda di daerah jingga dan biru)
Colour Measurement Committee (disingkat CMC) dari organisasi Society of Dyers and Colourists mendefinisikan perbedaan warna berbasis model warna CIELChab dengan mempertimbangkan kepekaan mata manusia pada kecerahan (Lightness L) dibandingkan dengan kepekaan pada kejenuhan warna (Chroma C). Rumus dapat kita definisikan dengan memasukan nilai pembanding l:c (Kepekaan pada Kecerahan Warna dibanding pada Kejenuhan Warna), dan biasanya nilai 2:1 adalah nilai yang masih dapat ditolerir.
Ruang pembatas toleransi ini berbentuk bola lonjong atau Ellipsoid.
Perumusan tolerasi CMC l:c berbasis CIELCh dan menggunakan standar iluminasi D65.

Catatan:
Oleh karena perhitungan ΔE* tergantung pada jenis iluminasi, maka jangan mencoba-coba untuk membandingkan berbagai nilai ΔE* yang didapat dari pengukuran dengan kondisi pengukuran yang berbeda termasuk jenis cahayanya.

2 komentar:

Jhufry Fha mengatakan...

Terimasih,
Pencerahannya bagus,
BTW bisa PM PDF sumbernya Gak?

derry acong mengatakan...

Informasinya bermanfaat