Kamis, 10 Februari 2011

Colorimetry Part I : CIE1931 - Ruang Warna CIEXYZ, CIExyY, Chromaticity xy dan Standard Observer 2°


Ruang Warna CIEXYZ
CIE (Commission Internationale de l´Eclairage / The International Commission on Illumination) mendeskripsikan dan mengklasifikasikan model warna CIEXYZ pada tahun 1931 berdasarkan investigasi yang dilaksanakan oleh William David Wright dan John Guild dengan 3 panjang gelombang monochromatik yaitu 700 nm (merah), 546,1nm (hijau) dan 435,8nm (biru) yang sering kali kita definisikan sebagai stimuli merah, hijau dan biru; Kondisi investigasi menggunakan sudut observer 2°. Model warna yang juga dikenal dengan CIERGB.
Akurasi standar sudut pemantauan 2° yang didefinisikan pada tahun 1931 masih dianggap lebih relevan dibandingkan dengan standar pemantauan 10° yang didefinisikan oleh CIE pada tahun 1967.
Nilai-nilai tristimuli dalam ruang warna CIEXYZ bukan mempresentasikan secara langsung seperti respon sel-sel Kerucut mata manusia S, M maupun L, tetapi lebih mengarah pada nilai-nilai yang dinamakan X, Y dan Z yang secara kasar dapat mewakili warna merah, hijau dan biru (namun X, Y, Z bukan identik dengan nilai observasi secara fisik pada warna merah, hijau dan biru itu sendiri).
The CIE standard observer color matching functions
Pertama-tama didefinisikan 3 fungsi pencocokan warna (Color Matching Function) yaitu: x̄(λ), ȳ(λ) dan z̄(λ) pada sudut pemantauan 2° seperti gambar di atas.
Nilai tristimulus warna yang mempunyai Distribusi Kuat Spektrum  (Spectral Power Distribution – SPD adalah distribusi kuat gelombang pada panjang gelombang λ tertentu) dapat didefinisikan sebagai berikut:
X= \int_0^\infty I(\lambda)\,\overline{x}(\lambda)\,d\lambda
Y= \int_0^\infty I(\lambda)\,\overline{y}(\lambda)\,d\lambda
Z= \int_0^\infty I(\lambda)\,\overline{z}(\lambda)\,d\lambda
Seperti ditulis diatas, bahwa XYZ tidak sama dengan RGB, karena untuk menghitung nilai RGB CIE menggunakan fungsi pencocokan warna yang berbeda dengan XYZ (lihat gambar dibawah) yaitu: r(λ), g(λ) dan b(λ) pada sudut pemantauan 2°. Dan rumusnya sebagai berikut.:
R= \int_0^\infty I(\lambda)\,\overline{r}(\lambda)\,d\lambda
G= \int_0^\infty I(\lambda)\,\overline{g}(\lambda)\,d\lambda
B= \int_0^\infty I(\lambda)\,\overline{b}(\lambda)\,d\lambda

Dan dibawah ini adalah rumus standar untuk konversi CIERGB ke CIEXYZ:

\begin{bmatrix}X\\Y\\Z\end{bmatrix}=\frac{1}{b_{21}}
\begin{bmatrix}
b_{11}&b_{12}&b_{13}\\
b_{21}&b_{22}&b_{23}\\
b_{31}&b_{32}&b_{33}
\end{bmatrix}
\begin{bmatrix}R\\G\\B\end{bmatrix}=\frac{1}{0.17697}
\begin{bmatrix}
0.49&0.31&0.20\\
0.17697&0.81240&0.01063\\
0.00&0.01&0.99
\end{bmatrix}
\begin{bmatrix}R\\G\\B\end{bmatrix}


Ruang Warna CIERGB ini tidak identik dengan Model Warna RGB


Standard Illuminants
Pada tahun 1931 CIE juga menstandarkan 3 iluminasi dasar, yaitu masing-maing:
-          CIE Standard Illuminant A: yang memiliki SPD (distribusi kuat spektral) sama dengan sebuah radiator Planckian pada temperatur 2856K.
-          CIE Standard Illuminant B: yang memiliki SPD mendekati SPD dari sinar matahari langsung (Iluminasi ini sekarang tidak diberlakukan lagi/obsolete)
-          CIE Standard Illuminant C: yang mempresentasikan kondisi terang pada siang hari yang dikorelasikan sama dengan temperatur warna sekitar 6800K


Contoh: Definisi Standar Illuminasi dari CIE antara lain:

Observer
2° (CIE 1931)
10° (CIE 1964)
Illuminant
X
Y
Z
x2
y2
X10
Y10
Z10
x10
y10
A (Incandescent)
109.850
100
35.585
0.44757
0.40745
111.144
100
35.200
0.45117
0.40594
C
98.074
100
118.232
0.31006
0.31626
97.285
100
116.145
0.31039
0.31905
D50
96.422
100
82.521
0.34567
0.35850
96.720
100
81.427
0.34773
0.35952
D55
95.682
100
92.149
0.33242
0.34743
95.799
100
90.926
0.33411
0.34877
D65 (Daylight)
95.047
100
108.883
0.31271
0.32902
94.811
100
107.304
0.31382
0.33100
D75
94.972
100
122.638
0.29902
0.31485
 94.416
100
120.641
0.29968
0.31740
F2 (Fluorescent)
99.187
100
67.395
0.37208
0.37529
103.280
100
69.026
0.37925
0.36733
F7
95.044
100
108.755
0.31292
0.32933
95.792
100
107.687
0.31569
0.32960
F11
100.966
100
64.370
0.38052
0.37713
103.866
100
65.627
0.38541
0.37123
XYZ (Tristimulus) Reference values of a perfect reflecting diffuser



Ruang Warna CIExyY dan Chromaticity xy
Memvisualisasikan 3-dimensi memang agak susah, dan oleh karena konsep warna juga dapat dideskripsikan dalam 2 kategori, yaitu menurut kecerahan warna dan chromaticity, dengan demikian CIE mengupayakan pemetaannya pada 2 dimensi diagram yang diturunkan dari ruang warna CIExyY yang dikenal dengan Diagram Chromaticity x,y merupakan dasar pengembangan ilmu Colorimetry hingga saat ini. (Chromaticity adalah diagram 2-dimensi warna dengan mengabaikan kehadiran Luminasi, sedangkan nilai x,y dan z yang masing-masing merepresentasikan komponen warna merah, hijau dan biru diasumsikan jumlahnya adalah 1; dengan demikian nilai z yang otomatis dapat diturunkan dari kehadiran x dan y tidak perlu dipetakan lagi)
Sehingga pemetaan tersebut dilakukan dengan mendefinisikan rumus-rumus sebagai berikut:
x = \frac{X}{X+Y+Z}
y = \frac{Y}{X+Y+Z}
z = \frac{Z}{X+Y+Z} = 1 - x - y

Nilai x dan y memiliki domain antara 0 dan 1, sedangkan nilai Y (kecerahan warna) mulai dari 0 untuk hitam hingga 100 untuk putih; model inilah merupakan dasar perhitungan kedua model warna yang didefinisikan oleh CIE di tahun 1976 yaitu CIELab dan CIELuv.
Diagram Chromaticity xy (CIE1931)


Sebaliknya apabila nilai parameter x dan y diketahui, maka nilai X dan Z dapat dirumuskan sebagai berikut:
X=\frac{Y}{y}x
Z=\frac{Y}{y}(1-x-y)


Beberapa hal yang menarik untuk diketahui pada diagram chromaticity xy tersebut:
  • Diagram tersebut mewakili semua chromaticity yang mampu dilihat oleh kebanyakan orang. Warna-warna yang ditunjukan dalam diagram chromaticity ini adalah wilayah dimana menusia mampu mendekteksi melalui indera pengelihatan mereka, wilayah ini disebut gamut. Dan gamut yang tergambar berbentuk “lidah” atau “sepatu kuda” . Sisi gamut dari kanan bawah menuju ke atas dan turun kembali melewati sisi sebelah kanan membentuk warna-warna monochromatic sesuai dengan panjang gelombang λ mulai dari 380 nm sampai 700 nm, garis tepi tersebut disebut garis spektral atau spectral locus. Sedangkan garis lurus penghubung dibawah menggambarkan pembentukan warna dari gabungan gelombang monochromatic ungu dan merah dan mempunyai kejenuhan sedikit kurang, garis ini disebut garis purple.
  • Terlihat bahwa tidak ada nilai negatif untuk x, y; demikian juga nilai X, Y dan Z.
  • Apabila kita tentukan 2 titik dalam diagram chromaticity ini lalu kita menghubungkannya, maka semua warna di garis tersebut dapat dibentuk oleh warna di kedua titin ini, dan gamut yang terbentuk sesuai dengan garis cembung sesuai dengan tepi chromaticity ini.
  • Chromaticity yang dibentuk dari Gamut manusia tidak berbentuk segitiga
  • Iluminasi Standar E (Equal Energy) terletak pada posisi (x,y) = (1/3 , 1/3)
Dan ruang warna yang dibentuk disebut CIExyY.
Diagram Chromaticity xy dengan informasi nama dan notasi warna

Contoh nilai warna dalam CIEXYZ:
Contoh warna jingga:

X =    49,13   untuk komponen merah
Y =    34,51   untuk komponen hijau
Z =     2,67   untuk komponen biru
x =     0,569
y =     0,400
Di tahun 1931 CIE mendefinisikan:
-       Standard Observer 2° dan Color Matching Function
-      Model warna CIERGB
-       Model warna CIEXYZ
-       Model warna CIExyY
-       Chromaticity xy
-       Standard Illuminant A, B, C


References:
1.       János D. Schanda, COLORIMETRY - Chapter 9 dari buku OSA/AIP Handbook of Applied Photometry (ed.: Dr. Casimer DeCusatis IBM, Poughkeepsie, NY USA)
2.       Silja Holopainen, Colorimetry - Presentasi Bahan Kuliah Pengukuran Warna, 2006
3.       Gernot Hoffmann, CIELab Color Space, Illustrasi dan Visualisasi, 2008
4.       Danny Pascale, BabelColor: Color Translator & Analyzer Help Manual Version 3.0, 2010
5.       Artikel-artikel Wikipedia tentang: Colorimetry, CIEXYZ, CIELAB, Color Temperature, Color Rendering dan Metamerism
6.       Gernot Hoffmann, CIE Color Space, 2010

Senin, 05 Januari 2009

Density - Densitometer & Status Pengukuran


Dalam Fisika Optik, Density dari sebuah materi optik adalah nilai pembanding dalam rumusan logaritma (berbasis 10), nilai density ini tidak mempunyai satuan ukuran. Pembanding yang dimaksud adalah pembanding nilai antara besaran kuat cahaya yang dipantulkan / diteruskan dengan besaran kuat cahaya yang masuk pada panjang gelombang cahaya tertentu.





 



O= nilai kepekatan (opacity)
T= nilai transmittance
I0= nilai kuat cahaya yang masuk
I= nilai kuat cahaya yang diteruskan / dipantulkan



Absorbance      Transmittance (I / I0)
0 1
0.1 0.79
0.25 0.56
0.5 0.32
0.75 0.18
0.9 0.13
1 0.1
2 0.01
3 0.001

Densitometer adalah alat yang dipakai untuk mengukur Density suatu benda yang memantulkan cahaya (reflection densitometer) atau yang meneruskan cahaya (transmission densitometer); di dalam industri grafika densitometer digunakan antara lain:


  • Mengukur kepekatan film separasi (standard density: >= D3.7)
  • Mengukur kepekatan tinta cetakan, nilai density ini biasanya diasumsikan memiliki korelasi dengan ketebalan lapisan tinta pada cetakan tetapi hal ini tidak sepenuhnya porposional (Status T, nilai-nilai dibawah ini merupakan contoh anjuran salah satu pabrik tinta):
  •  
     
    Bahan Cetakan / Methode Cetak
    Cyan
    Magenta
    Yellow
    Black
    Kertas Coated /

    Offset Lithography Lembaran
    1,40
    1,50
    1,10
    1,70
    Kertas Coated /

    Offset Lithography Gulungan (heatset)
    1,30
    1,40
    1,00
    1,55
    Kertas Koran /

    Offset Lithography Gulungan (non-heatset)
    0,90
    0,90
    0,85
    1,05

    Densitometer tidak dapat dipakai untuk mengukur warna, karena nilai yang dipresentasikan berdasarkan panjang gelombang cahaya tertentu (lihat fungsi diagram kepekatan); Sekarang ini pengukuran kepekatan warna (density) digunakan alat pengukur warna seperti Spectrophotometer yang mengukur data spektral warna, nilai density merupakan hasil perhitungan dari data spektral tersebut.

    Status T atau Status E

    Dalam praktek sehari-hari status pengukuran di percetakan dikenal 2 macam status pengukuran yaitu Status T dan Status E. Status T banyak dipergunakan di Amerika sedangkan Status E dipergunakan di sebagian besar negara di Eropa.



    Perbedaan kedua status pengukuran hanya pada filter biru yang dipergunakan untuk pengukuran density Yellow; pada status puncak T pemindaian warna Yellow (filter biru) ada di panjang gelombang 460 nm dan berakhir pada panjang gelombang 560 nm sedangkan pada status puncak E pemindaian tersebut berada di panjang gelombang 440 nm dan berakhir pada 540 nm.
    Oleh karena itu apabila kita mengukur density dengan status T atau status E, perbedaan yang signifikan hanya pada warna Yellow saja. Sedangkan baik filter hijau yang mengukur density Magenta maupun filter merah yang mengukur density Cyan sama atau sangat mirip.

     

    Catatan (tambahan): daftar nilai density warna tersebut diatas merupakan anjuran yang biasanya diberikan oleh pabrik tinta; dalam melakukan konsultasi di pressroom, ATGMI menyarankan untuk membuat daftar hubungan antara nilai density dan warna CIEL*a*b* pada kertas standar. Karena mengacu pada ISO 12647-2, maka ditentukan density mana yang paling mendekati nilai CIEL*a*b* sesuai dalam ISO 12647-2 tersebut, ini yang disebut Density Optimal


    Selasa, 23 Desember 2008

    Color Chips, Color Guide vs. Color Chart

    Dalam ilmu grafika "panduan warna" adalah hal yang paling penting untuk disimak, "panduan warna" ini bisa berupa benda yang warnanya perlu kita ikuti dalam mereproduksi warna, mengukur dan membandingkan adalah rutinitas yang tidak dapat dihinfari dalam mereproduksi watna; Namun kadang kala pelanggan bisa hanya menyebut nama/nomor warna yang ada dalam buku panduan warna. Untuk inilah percetakan wajib mengenal buku-buku panduan warna yang sering dipakai oleh pelanggannya.

    Color Chips
    Color Chips adalah contoh warna dengan tujuan sebagai panduan warna dalam mereproduksi warna; biasanya merupakan sobekan yang diambil dari buku warna atau hasil cetakan.

    Pada baris pertama menunjukan contoh warna-warna khusus yang biasanya dapat dibuat oleh pabrik tinta cetak, di Indonesia ada beberapa pabrik tinta cetak antara lain: Cemani Toka, DIC Graphics, Sakata Inx, Toyoindo, Inkote, Printcolor, Siegwerk. Sementara ada beberapa perusahaan yang memberikan jasa pencampuran tinta (Color Matching) yang tinta cetak dasarnya dari beberapa pabrik di dalam maupun diluar negeri, seperti: Valspar, Toyo Ink, Esae dll.

    Penggunaan Warna Khusus ini perlu dicermati, karena trend reproduksi warna (terutama di industri cetak kemas) warna khusus tersebut dapat dikombinasikan penggunaannya dengan warna lain (Bump Plate, Pantone Hexachrome, System Opaltone) à Multi Color Process; Apabila ini terjadi maka pabrik tinta akan menyesuaikan pembuatan tintanya agak transparent, agar tidak terjadi Ink Trapping Error.
    3 Color Chips pada baris kedua adalah contoh warna yang dapat dibuat dari kombinasi mencetak dengan 4 warna proses, yaitu Cyan, Magenta, Yellow dan Black; disingkat CMYK. Tinta Cetak warna proses harus memenuhi kriteria tertentu agar kombinasi warnanya dapat ditebak. (Lihat penjelasan tentang warna proses CMYK di: Model Warna CMYK)

    Warna kombinasi pada baris ketiga merupakan panduan warna kombinasi dari model warna RGB (Red, Green, Blue), warna-warna ini hanya dapat ditampilkan dengan alat optik seperti layar monitor; Warna-warna RGB sebenarnya tidak pernah dicetak dan tidak diperuntukan untuk panduan mencetak warna. Tetapi apabila sampai ada Color Chip jenis ini dapat dikategorikan sebagai warna khusus.
    Sobekan atau bahkan produk asli tidak dapat digunakan sebagai panduan warna karena secara teknis tidak dapat diukur, sehingga sering terjadi perdebatan. Namun karena keterbatasan dari perusahaan pemberi order cetak, pada kenyataannya banyak percetakan yang menerima contoh-contoh warna jenis seperti ini dari pelanggan mereka. Hal ini perlu direduksi dengan memperkenalkan lebih intent penggunaan Digital Proofing.
    Untuk memenuhi kebutuhan akan panduan warna dibuatlah buku tentang panduan warna dan yang sering kita jumpai adalah Color Guide (termasuk yang dapat disobek sebagai Color Chips) dan Color Chart.

    Color Charts
    Agar mendapatkan pengertian yang lebih bermanfaat, saya mendefinisikan Color Chart sebagai buku panduan warna kombinasi dari warna-warna proses (baik model warna CMYK atau Pantone Hexachrome atau sistem warna proses lainnya).

    Dalam memproduksi Color Chart beberapa hal perlu diperhatikan, agar Color Chart dapat berhasil guna:


    1. Ketebalan tinta pada saat mencetak harus normal sesuai dengan teknik pencetakannya, jangan terlalu dipaksakan untuk mendapatkan kepekatan warna (color density) atau warna (CIELab) yang ditentukan (biasanya untuk Cetak Offset Lithography sekitar 1μ); apabila tidak tercapai kepekatan / warna yang diharapkan, tanyakan kepada pabrik tinta yang bersangkutan dan mintalah untuk menaikan Kekuatan Warna (Color Strength) tinta tersebut.
    2. Mengatur Nilai Pembesaran Raster (Tone Value Increase / TVI) atau lebih sering disebut Dot Gain hingga sesuai dengan standard cetak, biasanya 22% untuk mencetak Offset Lithography diatas Coated Paper dengan frekuensi raster 150 lpi.
    3. Mencetak dengan variasi dan toleransi seminimal mungkin, total variasi dan toleransi maximum ΔEab = 4 adalah nilai yang ideal untuk produksi Color Chart.
    4. Mengukur parameter warna dengan cara yang benar, pergunakan Spectrophotometer merk Techkon atau X-Rite sudah banyak beredar di Indonesia.
    Apabila mengacu pada standard internasional, hendaknya tinta cetak yang dipergunakan sesuai dengan spesifikasi ISO 2846 dan pada saat mencetak Color Charts tersebut sesuai dengan parameter ISO 12647.

    Pada bulan Juli 2011 ATGMI (Asosiasi Teknik Grafika dan Media Indonesia) telah meluncurkan sebuah buku Color Chart yang cukup baik

    Color Guide
    Buku panduan warna Color Guide saya definisikan menjadi 2 macam, yang pertama adalah Buku Panduan Warna yang hanya mencantumkan warna dan yang kedua adalah Formula Guide, yaitu buku panduan warna yang mencantumkan dengan formula apa warna dapat dibuat, biasanya buku seperti ini mempunyai 2 bagian, yaitu bagian Warna Dasar (Basic Colors) dan Warna Campuran (Matching Colors).
    Color Guides keluaran Pantone adalah yang paling banyak kombinasi serta versinya, untuk cetak kertas saja ada Coated Solid, Uncoated Solid, Metallic Colors dan Pastel Colors.
    Membuat Color Guides memerlukan rol penintaan khusus, agar oscillating roll (roll geser yang berfungsi meratakan tinta pada posisi antara Inkkey Zones) tidak membaurkan warna tinta lainnya. Dibawah ini saya illustrasikan mencetak 2 halaman pertama Pantone Solid Coated. Dengan memanfaatkan mesin cetak dua warna, unit cetak cetak pertama mencetak label hitam dan unit cetak kedua mencetak 14 warna sekaligus; Unit cetak kedua ini dimodifikasi baik bak tinta maupun rol tinta nya. Jadi sekali lintasan akan menghasilkan 4 x 2 halaman pertama buku Pantone Solid Coated.





    References:

    http://www.colorguides.net/

    http://opaltone.com/Color-Books-109.cms

    http://eci.org/doku.php?id=en:colorstandards:offset

    http://www.xrite.com/top_Products.aspx





    Minggu, 02 November 2008

    Model Warna CMYK


    CMYK (adalah kependekan dari cyan, magenta, yellow-kuning, dan black-hitam, dan biasanya juga sering disebut sebagai 'warna proses' atau 'empat warna'). CMYK adalah sebuah model warna berbasis pengurangan sebagian gelombang cahaya (substractive color model) dan yang umum dipergunakan dalam pencetakan berwarna. Istilah CMYK juga biasanya digunakan untuk menjelaskan proses pencetakan itu sendiri. Meskipun terdapat beberapa methode pencetakan yang diterapkan pada percetakan, operator cetak, pembuat mesin cetak dan urutan penintaan, proses pewarnaan umumnya berurutan sesuai dengan singkatannya, yaitu CMYK.

    Bagaimana hubungan RGB - CMYK

    Secara teori sebenarnya model warna CMY (tanpa Black - Hitam) adalah kebalikan secara langsung dari model warna RGB, dalam hal ini bisa ditarik analogi fungsi konversi sederhana seperti:
    fungsi [r,g,b] = cmy2rgb (c,m,y)
    r = 1.0 - c;
    g = 1.0 - m;

    b = 1.0 - y;

    Namun faktanya, model warna RGB yang banyak dijumpai dalam metode reproduksi warna alat-alat optik, seperti Camera Digital, Layar Monitor atau Pemindai Warna sangat tergantung pada komponen alat; sedangkan model warna CMY(+K) tergantung pada parameter proses pencetakan, baik teknologi pencetakan maupun bahan-bahan materi cetak dan tinta yang dipergunakan. Kedua model warna tersebut memiliki ketergantungan dalam memvisualkan warna.
    Oleh karena itu tidak ada rumusan yang sederhana dalam mengkonversi warna RGB ke CMYK atau kebalikannya. Seperti:
    fungsi [r,g,b] = cmyk2rgb (c,m,y,k)
    r = 1.0 - (c+k);
    g = 1.0 - (m+k);

    b = 1.0 - (y+k);

    Membandingkan peralatan optik RGB seperti layar monitor dengan hasil cetak CMYK sangatlah sulit (lihat inset: perbandingan model warna RGB dan CMYK), karena baik komponen peralatan maupun pigmen (zat warna) tinta berbeda sekali.
    Meskipun tidak ada rumusan yang sederhana untuk mengkonversi RGB ke dalam model warna CMYK namun banyak yang berusaha mengimplementasikan proses konversi tersebut diatas. Proses ini biasa disebut dengan Color Management System.
    Dengan memanfaatkan profil warna (color profile) sebuah aplikasi software menghitung dan mengkonversi kedua data model tersebut.


    Mengapa CMYK bukan CMY
    Teori Penyerapan Warna (Substractive Color Model) mengatakan bahwa Cyan akan meyerap gelombang cahaya Red-Merah, Magenta akan menyerap gelombang cahaya Green-Hijau dan Yellow akan menyerap gelombang cahaya Blue - Biru adalah utopia semata.
    Dalam penerapannya mustahil didapatkan tinta-tinta tersebut diatas yang murni dapat menyerap seluruh gelombang cahaya yang seharusnya diserap. Oleh karena itu suka atau tidak suka ada saja sebagian gelombang cahaya yang tidak diinginkan (Unwanted Color) yang masih dipantulkan sehingga membuat kesalahan warna atau sering disebut hue error.
    Meskipun ketiga tinta primer tersebut (CMY) masing-masing memantulkan gelombang cahaya warna yang tidak diinginkan, tapi porsinya berbeda, tinta Cyan memantulkan cahaya Merah yang lebih besar dibandingkan dengan cahaya Green - Hijau yang dipantulkan oleh tinta Magenta demikian juga cahaya Biru oleh tinta Yellow.
    Setelah kita menyadari bahwa penumpukan ketiga wa
    rna CMY masih memantulkan sedikit cahaya.
    Oleh karena itu dalam proses pencetakan di
    tambahkan warna Black - Hitam sebagai warna ke-4, agar reproduksi warna dapat menghasilkan kepekatan warna hitam yang diinginkan. (Lihat komentar: Mungkin karena fungsi inilah warna ke-4 tersebut sering kali disebut Key, karena tinta blacK merupakan kunci agar cetakan dapat menghasilkan warna pekat sekali)
     

    lihat juga artikel di wikipedia "Benefits of using black ink" di CMYK.

    silakan lihat seputar GCR dan Grey Balance

     

    Warna Proses / Empat Warna
    Jadi untuk mereproduksi gambar sehingga dapat dicapai hasil yang (relative) sempurna dibutuhkan sedikitnya 4 Tinta yaitu: Cyan, Magenta, Yellow dan Black. Keempat tinta tersebut disebut Tinta / Warna Proses. Tinta Proses adalah tinta yang dipergunakan untuk mereproduksi warna dengan proses teknik cetak tertentu, seperti offset lithography, rotogravure, letterpress atau sablon. Berbeda dengan Tinta yang hanya digunakan satu lapisan (single layer), karena tinta yang digunakan dapat ditumpuk-tumpuk, maka sifat tinta proses harus memenuhi standard tertentu, seperti spesifikasi warna (dalam model warna CIELab) dan nilai Opaqcity/Transparency. Kesalahan warna dalam penumpukan 2 macam tinta tersebut disebut: Ink Trapping Error (berbeda dengan Layout Trapping Error). (ISO 2846-1 hingga ISO 2846-5 adalah standar yang ditetapkan oleh badan standarisasi international terhadap warna dan nilai transparency dari tinta proses 4 warna CMYK masing-masing untuk proses pencetakan: Sheet-fed and heat-set web offset lithographic printing, Coldset offset lithographic printing, Publication gravure printing, Screen printing dan Flexographic printing. Lihat: perbedaan Standar Warna di industri grafika ISO 2846 dan ISO 12647) Teknik separasi saat ini sudah berkembang; Penggunaan 4 tinta proses masih dominan, tapi metode menambah warna tinta cetak berkembang pesat. Teknologi HiFi Color dikembangkan beberapa pihak antara lain Pantone mengembangkan Proses Hexachrome dan Opaltone. Pada teknik Digital Inkjet Printing, perkembangan Warna Proses sedemikian pesatnya, hal ini didorong lantaran karena masalah teknis (kecilnya nozzle dalam printing head), maupun persaingan untuk menghadirkan reproduksi warna yang sempurna (sesuai dengan target pasar yang dituju), ada tinta-tinta seperti: Light Magenta, Light Cyan, Grey, Matt Black, Orange dan Green dll.
    Jadi Empat Warna adalah spesifik untuk penyebutan proses pewarnaan dengan menggunakan CMYK.

    Singkatan Key untuk K dalam CMYK & Komentar artikel Cyan Magenta Yellow Key di wikipedia bahasa Indonesia

    Melihat perkembangan penggunaan warna hitam - Black dalam separasi warna seperti yang dijelaskan diatas memberikan sedikit makna pentingnya warna hitam dalam separasi 4 warna.
    Karena tinta Hitam tidak mempunyai nuansa warna (undefined hue), maka warna hitam baik dipakai untuk mencampur separasi gambar tidak mengubah nuansa warna. Tinta Hitam hanya berfungsi untuk memperkeruh warna atau orang awam akan melihat gambar menjadi lebih gelap.
    Mungkin karena inilah singkatan K dalam CMYK menjadi Key bukan blacK.

    Padahal vendor alat pemindai warna terdahulu seperti Dr. Hell, Crosfield dan Dainippon Screen menggunakan singkatan K (atau kadang kala: Bk) pada panel kontrol warna untuk menghindari salah sebut dengan Blue - Biru.
    Bagi saya pengertian Key malah mengaburkan makna dan fungsi warna Hitam pada proses reproduksi warna.
    Mengomentari adanya artikel Cyan Magenta Yellow Key di wikipedia bahasa Indonesia saya jadi bingung karena Key tidak ada hubungan dengan warna maupun nama warna yang biasa dikenal (lihat: Daftar Warna di Wikipedia). Tapi apabila kita buka halaman Key pada defi
    nisi utama halaman model warna CMYK versi Inggris, maka redirected ke Keyline (dalam ruang lingkup keyline design --> design grafis. Keyline adalah garis-garis yang dipergunakan baik sebagai sketsa awal maupun penegasan akhir dalam merancang design yang biasanya menggunakan warna Hitam). Makna Key menjadi rancu lagi, karena sebelumnya Key yang terjemahan lepas adalah Kunci disebutkan merupakan kunci dari teori separasi warna.
    -------------------------------------------------------------
    copy artikel tersebut:

    Cyan Magenta Yellow Key, atau sering disingkat sebagai CMYK adalah proses pencampuran pigmen yang lazim digunakan percetakan. Tinta process cyan, process magenta, process yellow, process black dicampurkan dengan komposisi tertentu dan akurat sehingga menghasilkan warna tepat seperti yang diinginkan. Bahkan bila suatu saat diperlukan, warna ini dengan mudah bisa dibentuk kembali.
    Sistem CMYK juga digunakan oleh banyak printer kelas bawah karena keekonomisannya.
    -------------------------------------------------------------

    Penulisan Warna dalam Model Warna CMYK

    Sebuah warna dalam model warna CMYK dituliskan dalam beberapa bentuk, seperti:
    CMYK(c,m,y,k) atau Cc Mm Yy Kk, dimana c,m,y,k masing-masing memiliki domai 0 ~ 100, seperti Schoolbus yellow = CMYK(0,15,95,0) atau C0 M15 Y100 K0 artinya warna Schoolbus Yellow mempunyai komposisi dalam model warna CMYK sebagai berikut:
    tinta Magenta 15% ditambah/ditumpuk dengan tinta Yellow 95%.

    Perkembangan separasi terakhir simbol c dan m dengan huruf kecil juga dipakai untuk menyebutkan Warna Light Cyan dan Light Magenta. (Jadi mohon dibedakan
    antara Nama warna dan Nilai komponen warna)

    Warna Primer, Sekunder dan Tersier (definisi yang perlu dikaji ulang, mengingat hitam / black tidak mempunyai fungsi mengubah nilai jenis warna...)
    Warna Primer dalam model warna CMYK adalah semua warna yang komposisi hanya terdiri dari 1 macam warna, seperti CMYK (100,0,0,0) atau CMYK (0,50,0,0) atau CMYK (0,0,0,20).
    Warna Sekunder dalam model warna CMYK adalah semua warna yang komposisinya menggunakan campuran 2 (dua) macam tinta proses, seperti C
    MYK (100,70,0,0), CMYK (0,100,100,0).
    Sedangkan Warna Tersier dalam model warna CMYK adalah semua warna yang komposisinya terdiri dari 3 (tiga) macam) warna proses.


    Dalam salah satu halaman di situs December Communication Inc. terdapat contoh dan nama warna-warna dalam model warna CMYK, seperti: gainsboro, tomato, cat eye, cool mint etc.

    Color Steps
    Color Steps adalah kotak-kotak yang disusun sedemikian rupa dan digunakan untuk mengontrol warna pada saat mencetak, biasanya kotak-kotak dengan komposisi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100% untuk masing-masing warna primer dan sekunder (lihat gambar).
    Namun kadang kala tidak berurutan dan mencantumkan komposisi (terutama pada) warna primer untuk 1%, 2%, 3%, 4%, 5% serta 95%, 96%,97%, 98% dan 99%. Kotak-kotak seperti ini digunakan khusus untuk mengontrol kemampuan mencetak titik raster dari proses cetak tertentu.
    Komposisi 100% disebut Warna Solid.



    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------
    Colorimetry:
    Apabila warna proses CMYK diukur dengan alat spectrophotometer, data spektral dapat dilihat di: Kurva Spektral Warna Proses
    ---------------------------------------------------------------------------------------------------------